Workshop PMI Medan: Cara Penanganan Gigitan Hewan Berbisa di Situasi Darurat Hutan

Bekerja di medan hutan atau area vegetasi lebat merupakan tantangan nyata bagi relawan kemanusiaan. Dalam situasi darurat di alam liar, salah satu risiko yang sering terabaikan namun berakibat fatal adalah gigitan hewan berbisa. Workshop yang diselenggarakan oleh PMI Medan bertujuan membekali relawan dengan keterampilan krusial untuk melakukan tindakan penyelamatan yang tepat, cepat, dan terukur saat menghadapi ancaman dari ular, kalajengking, atau serangga beracun lainnya di tengah hutan.

Dalam sesi workshop, para ahli menekankan bahwa kepanikan adalah musuh terbesar. Saat seseorang terkena gigitan hewan berbisa, respons biologis tubuh sering kali meningkat, yang justru mempercepat penyebaran racun melalui aliran darah. Penanganan pertama yang diajarkan oleh PMI Medan adalah menenangkan korban dan menjaga area tubuh yang tergigit agar tetap berada di bawah posisi jantung. Relawan harus segera melumpuhkan pergerakan bagian tubuh yang terkena gigitan, misalnya dengan menggunakan bidai, untuk memperlambat sirkulasi limfatik yang membawa bisa masuk ke sistem saraf atau peredaran darah utama.

Kesalahan fatal yang sering dilakukan masyarakat umum—dan terkadang relawan yang belum terlatih—adalah melakukan penyedotan racun dengan mulut atau menyayat luka. Tindakan ini tidak hanya tidak efektif, tetapi juga berisiko tinggi menularkan infeksi bakteri atau menyebabkan cedera jaringan lebih lanjut. PMI Medan secara tegas melarang prosedur kuno tersebut. Sebaliknya, relawan diinstruksikan untuk membersihkan area gigitan dengan air bersih atau cairan antiseptik jika tersedia, kemudian membalutnya dengan perban elastis—bukan tourniquet yang terlalu kencang—untuk menahan penyebaran racun tanpa menghentikan suplai oksigen ke jaringan.

Situasi darurat di tengah hutan memiliki tantangan tambahan berupa keterbatasan waktu evakuasi. Relawan dilatih untuk melakukan identifikasi awal terhadap jenis hewan berbisa. Meskipun tidak semua relawan adalah ahli biologi, mereka diajarkan untuk mengenali tanda-tanda sistemik seperti mual, sesak napas, atau pembengkakan hebat yang menjadi indikator bahwa korban memerlukan penawar racun (antivenom) sesegera mungkin. Penguasaan teknik ini sangat penting karena sering kali relawan menjadi satu-satunya tenaga medis pertama yang bisa diakses oleh korban di wilayah tersebut.

×