Mitigasi Perubahan Iklim: Strategi Adaptasi Komunitas PMI Menghadapi Banjir dan Kekeringan Ekstrem

Perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi di Indonesia, membuat banjir dan kekeringan ekstrem menjadi ancaman tahunan. Palang Merah Indonesia (PMI), yang memiliki mandat kemanusiaan di garis depan, tidak hanya fokus pada respons pascabencana, tetapi juga pada mitigasi dan kesiapsiagaan komunitas. Inti dari upaya ini adalah strategi adaptasi yang dirancang khusus untuk meningkatkan ketahanan masyarakat rentan. Strategi adaptasi PMI melibatkan kombinasi pengetahuan lokal, penguatan kelembagaan, dan implementasi teknologi sederhana untuk menghadapi dampak iklim yang semakin tidak terduga. Dengan membangun kesadaran dan kapasitas di tingkat desa, PMI memastikan bahwa strategi adaptasi ini bersifat berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan spesifik komunitas.


Pendekatan Holistik dalam Kesiapsiagaan Banjir

Dalam menghadapi ancaman banjir, PMI menerapkan pendekatan yang bergerak dari peringatan dini hingga pembangunan infrastruktur sederhana.

  1. Sistem Peringatan Dini Berbasis Komunitas (EWS): PMI melatih relawan lokal untuk memantau ketinggian air sungai dan curah hujan menggunakan alat ukur sederhana. Data ini kemudian disebarkan melalui jalur komunikasi cepat (seperti grup WhatsApp atau kentongan tradisional) ke seluruh warga desa dalam waktu krusial. Pada studi kasus di Desa Sukamaju, Kabupaten Garut, yang rawan banjir bandang, penerapan EWS yang dipandu PMI pada 15 November 2025 memungkinkan evakuasi 90% warga ke tempat pengungsian yang telah ditentukan dalam waktu kurang dari satu jam sejak peringatan dini dikeluarkan.
  2. Pembangunan Shelter dan Jalur Evakuasi: PMI sering bekerja sama dengan pemerintah desa untuk memetakan dan memperkuat jalur evakuasi. PMI juga membantu membangun tempat berlindung sementara di lokasi yang lebih tinggi yang dapat digunakan secara kolektif saat banjir terjadi.

Adaptasi Komunitas Menghadapi Kekeringan Ekstrem

Kekeringan menghadirkan tantangan yang berbeda, berfokus pada kelangkaan air bersih dan kerentanan pangan. Di sini, strategi adaptasi PMI berfokus pada konservasi dan manajemen sumber daya air.

  1. Pelatihan Water Harvesting: Relawan PMI memberikan pelatihan teknis tentang cara memanen air hujan (rainwater harvesting). Ini melibatkan pembangunan penampungan air sederhana di rumah-rumah atau fasilitas umum. Teknologi ini terbukti sangat efektif di daerah-daerah yang memiliki curah hujan musiman yang tinggi tetapi rawan kekeringan saat kemarau.
  2. Pembuatan Sumur Resapan dan Biopori: Untuk mengisi kembali cadangan air tanah (groundwater), PMI menginisiasi proyek sumur resapan dan lubang biopori komunal. Proyek yang dikerjakan PMI Cabang Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, pada Juli 2024, berhasil meningkatkan debit air pada sumur warga hingga 15% pada musim kemarau berikutnya, menunjukkan keberhasilan intervensi ini.
  3. Edukasi Kesehatan: Selain infrastruktur air, PMI juga gencar melakukan edukasi kesehatan terkait dampak kekeringan, seperti risiko dehidrasi, sanitasi minim, dan peningkatan penyakit diare.

Melalui program Climate Change Adaptation (CCA) ini, PMI bergeser dari peran reaksi menjadi proaksi. Dengan memberdayakan komunitas lokal sebagai aktor utama dalam mitigasi bencana, PMI secara efektif meningkatkan daya lenting (resilience) Indonesia terhadap perubahan iklim yang tak terhindarkan.

×