Di Balik Jari yang Meneteskan Darah: Kisah Pahlawan Donor Darah PMI

Jari-jari lentik itu menempel di botol infus, sementara jarum kecil menusuk urat nadinya. Di sebuah sudut Balai Kota Jakarta, 23 Juli 2025, suasana hening dan penuh khidmat terasa di ruangan yang disulap menjadi tempat donor darah massal. Di antara puluhan orang yang berbaring, terbaring sosok Bapak Budi Susanto, seorang petugas kebersihan berusia 55 tahun. Wajahnya yang keriput dan tangannya yang kasar menyimpan sebuah tekad mulia, menjadi salah satu kisah pahlawan yang tak terucap, namun sangat berarti bagi banyak nyawa. Ia telah menjadi pendonor rutin selama 20 tahun, dengan total lebih dari 100 kali donasi. Awalnya, ia hanya ingin mencoba karena diajak temannya, namun setelah mengetahui setiap tetes darahnya bisa menyelamatkan nyawa, donor darah kini menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Ia sadar, sebagai manusia ia mungkin tidak memiliki harta berlimpah, tetapi ia memiliki sesuatu yang lebih berharga: darah yang bisa ia bagikan.

Pada kesempatan kali ini, Bapak Budi duduk bersebelahan dengan seorang mahasiswi bernama Sarah Wijaya. Sarah, yang baru berusia 20 tahun, pertama kali melakukan donor darah. Ia terlihat gugup, tetapi setelah mendengar cerita Bapak Budi, rasa takutnya perlahan menghilang. Ia terinspirasi melihat ketulusan dan konsistensi dari seseorang yang bahkan tidak ia kenal. Proses pengambilan darah berlangsung sekitar 15 menit. Setelah selesai, Sarah merasakan sensasi unik, campuran antara lega dan bangga. Baginya, ini bukan hanya sekadar kegiatan sosial, melainkan sebuah aksi nyata dari kepedulian. Ini adalah momentum di mana ia merasa benar-benar menjadi bagian dari sebuah komunitas yang saling membantu, tanpa memandang latar belakang. Kisah pahlawan seperti ini adalah pengingat bahwa kebaikan bisa datang dari siapa saja.

Kegiatan donor darah yang diselenggarakan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) ini bekerja sama dengan pihak kepolisian, di mana perwakilan dari Polda Metro Jaya juga turut berpartisipasi. Kompol Bambang Suherman, misalnya, adalah salah satu dari puluhan petugas polisi yang ikut mendonorkan darahnya hari itu. “Ini adalah bentuk solidaritas kami sebagai abdi negara. Kami tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga kesehatan dan kemanusiaan,” ujar Kompol Bambang. Ia menambahkan, ketersediaan stok darah sangat krusial, terutama di kota besar dengan mobilitas tinggi seperti Jakarta. Kegiatan ini sangat membantu PMI dalam memenuhi kebutuhan darah yang terus meningkat, terutama untuk pasien di rumah sakit yang memerlukan transfusi darah secara rutin atau dalam kondisi darurat. Setiap hari, PMI membutuhkan ribuan kantong darah untuk pasien di berbagai rumah sakit di seluruh Indonesia.

Momen haru juga terjadi ketika seorang petugas kesehatan PMI, Ibu Siti Aminah, menceritakan pengalamannya. Ia pernah menangani kasus di mana seorang pasien anak-anak mengalami pendarahan hebat akibat kecelakaan. Stok darah yang dibutuhkan sangat langka, dan saat itu, Bapak Budi adalah satu-satunya pendonor yang memiliki golongan darah yang cocok. “Satu kantong darah dari Bapak Budi saat itu menyelamatkan nyawa anak itu. Saya melihat sendiri bagaimana wajah ibunya yang putus asa berubah menjadi penuh harapan. Itulah mengapa kami di PMI selalu berjuang untuk mengumpulkan setiap tetes darah yang bisa didapatkan,” kenang Ibu Siti. Pengorbanan kecil dari pendonor darah sesungguhnya memiliki dampak yang luar biasa, mengubah takdir seseorang, bahkan sebuah keluarga. Kisah pahlawan sejati tidak selalu tentang kekuatan fisik atau ketenaran, tetapi tentang keikhlasan hati untuk menolong sesama.

×